Weekend
ini terasa melelahkan bagi Shilla. Jadwal kuliah lapangannya membuat liburan
yang sudah ia rencanakan untuk nonton bareng teman-temannya batal sekejap
setelah dosennya memutuskan bahwa minggu ini kuliah kerja lapangan akan
dilaksanakan.
“ngeselin banget deh ma, masa iya
mesti banget kuliah weekend gini..” gerutu shilla pada mamanya saat menelpon.
“udah deh shill jangan ngeluh
terus, katanya mau kuliah ya ini namanya kuliah bukan main main terus.”
“iya dehhhh, shilla ngerti”
“belajar yang bener ya sayang.
Yaudah tidur gih biar besok ngga kesiangan”
“iya mamaaa” jawab shilla
“Assalamuallaikum”
“Waalaikumsalam” Shilla menutup
telpon mamanya.
Malam
itu Shilla tidak benar-benar tidur dengan baik. Keesokan harinya Shilla
berangkat pagi-pagi sekali dari kostannya, karena lokasi dilaksanakan kegiatan tersebut
cukup jauh dari tempat kostnya. Dengan malas Shilla berjalan kearah mahasiswa yang sedang menunggu bis yang kan mereka tumpangi datang, dan Shilla mencari sekumpulan teman-temannya yang kebetulan sedang bergosip yang selalu tak ingin Shilla tau.
“kenapa lu ?” Tanya Dira.
“lu ngga liat mata gue ngantuk
banget gini?”
“yakelah Shill udah siang gini
masih ngantuk aja lu. Begadang lagi?” Pertanyaan lainya berlanjut oleh Mia
“yaaa you know lahh”
“Dion lagi? Elu tuh ya mantan
ngga jelas gitu masih aja di fikirin!!” omel Dira kepada Shilla
“udah ngga usah di bahas lagi.
Lagian gue begadang bukan karna dia kok. Kebetulan ada novel yang belum gue
selesain ya gue lanjutinlah bacanya
nanggung.” Jawab Shilla balas mengomel sambil berlalu menuju bus.
Teman-temannya
tau benar sifat Shilla yang kadang sering marah-marah ngga jelas karna masalah
yang dia simpan sendiri dan berakhir dengan tumpukan novel yang sudah berulang
kali dibacanya. Dion adalah mantan pacar Shilla. Dion dan Shilla sudah menjalin hubungan sejak SMA, namun hubungan mereka putus karena Dion memilih untuk pergi meninggalkan Shilla.
Selama
dalam perjalanan Shilla terus tidur tanpa memperdulika teman-temannya.
Sebenarnya Shilla tidak benar-benar tidur, dia hanya sedikit menenangkan
hatinya karna bila tidak begitu dia akan terus dijejali pertanyaan yang selalu
membuatnya sakit.
Tidak
terasa akhirnya mereka sampai di desa yang mereka tuju. Setelah pembagian
kelompok dosen pembimbing kkl juga memberikan pembekalan bagi mahasiswanya.
Beruntung Shilla satu kelompok dengan teman yang sudah dia kenal, sebab Shilla
bukan orang yang suka basa basi hanya untuk berkenalan. Shilla termasuk orang
yang pendiam dengan orang yang baru dikenalnya. Karna dalam kelompoknya juga
termasuk seniornya Shilla lebih memilih banyak diam selama kegiatan
berlangsung. Sampai akhirnya kegiatan pun selesai dan waktunya solat dan
beristirahat makan siang.
“solat yuk.” Ajak Shilla dengan
teman-temannya
“aku sih lagi ngga solat, hehe..”
“sama Shill aku juga ngga,
hehe..”
“kebiasaan deh kalian, yaudah
deh..” gerutuh Shilla sambil berlalu meninggalkan teman-temanya.
Shilla
pergi menuju masjid yang ada di desa tersebut. Di tempat wudhu yang terbatas
dan posisi tempat wudhu perempuan dan laki-laki yang berdekatan membuat Shilla
sedikit tidak nyaman. Tapi Shilla harus tetap berwudhu, solat dan memaklumi
keadaan karena dalam situasi ini dia berada di desan dan harus memaklumi.
Sebelum berwudhu Shilla sempat mengamati laki-laki yang sedang berwudhu dan dia
ketahui ternyata adalah kakak tingkat yang satu kelas dengannya.
“Subhanallah..” ucap Shilla tanpa
ia sadari didengar teman di sebelahnya.
“kenapa Shill?” Tanya Tari
“eumm.. ngga.. itu.. panas banget
gini ya..” jawab Shilla terbata-bata.
“oh kirain kenapa. Iya nih panas
banget. Wudhu yuk..”
Shilla dan Tari pun berwudhu,
sedangkan kakak tingkatnya tersebut sudah berlalu ke dalam masjid.
Usai
solat semua berkumpul untuk makan siang. Sesekali Shilla mencari sosok yang
membuatnya terpaku di tempat wudhu tadi. Waktu jam makan siang pun selesai dan
semuanya bersiap-siap untuk pulang. Shilla dan teman-temannya pulang dengan bus
yang tadi ia dan teman-temannya tumpangi. Sebelum pulang semua berkumpul di
kampus terlebih dahulu. Dan bus pun dibagi sesuai tempat tujuan mahasiswa.
Awalnya Shilla kebingungan mencari teman-temanya yang pulang satu tujuan
dengannya. Dan akhirnya dia bertemu temannya Nisa di dalam sebuah bus. Setelah
ia duduk Shilla kaget melihat sosok yang ia kagumi sewaktu wudhu di desa tadi.
Senior itu duduk tidak jauh dari tempatnya. Sepanjang perjalanan pulang Shilla
diam-diam memperhatikannya. Tapi Shilla kecewa setelah tau seniornya itu turun
lebih dahulu darinya.
Hingga
sampailah Shilla dan Nisa, mereka memutuskan untuk membeli makanan ringan untuk
cemilan sewaktu malam. Mereka pun masuk kedalam toserba di dekat kost mereka.
Shilla kembali di kagetkan dengan sosok itu, hitam manis dan berpostur tubuh
tidak terlalu tinggi dan kurus.
“aaaaak.... dia lagi..” shilla
berteriak sedikit berbisik.
“kenapa lu?” Tanya Nisa
kebingungan.
“itu tuh abang yang ituuu..”
jawab Shilla berbisik
“oalah bang fatih?”
“elu kenal?” Tanya Shilla memaksa
Nisa menjawab.
“ngga kenal banget juga sih..
tapi gue tau, dia kan senior yang satu kelas sama kita”
“oooh..”
“kenapa?” Tanya Nisa penasaran
“ngga kok..” jawab Shilla sambil
berlalu.
Shilla
masuk ke dalam toserba dan pura-pura tidak melihat keberadaan seniornya. Namun
dalam hatinya ia berharap dapat sapaan dari Fatih. Tapi Shilla gagal, Fatih
seolah tidak menyadari keberadaan Shilla. Ia pun pergi menuju rak makanan yang akan
dibelinya denga wajah masam.
Sesampainya
di kamar kost Shilla masih tetap membayangkan Fatih. setelah mandi dan solat magrib
Shilla mencoba mengistirahatkan badannya yang terasa lelah. Tapi tidak beberapa
lama layar handphonenya menyala dan tertera pemberitahuan bahwa ada BBM masuk.
Tiba-tiba Shilla kaget kegirangan melihat ada pin yang menunjukkan pemiliknya adalah Fatih. Segera Shilla menginvite pin
senior yang sudah membuat dia berpaling hari itu. Shilla beristirahat dan tidur
dengan tenang malam itu, dalam keadaan hati yang bahagia.
Bersambung...