Senin, 14 September 2015

Assalamuallaikum.
Hai, apa kabar?

Sudah satu tahun lebih kamu pergi. Sudah selama itu juga hujan tidak begitu menjadi indah. Sudah selama itu aku meninggalkan kebiasaan menulis. Entahlah, aku terlalu sibuk dengan hubunganku yang sekarang.

Namun, aku rindu. Rindu mencintai hujan. Rindu menulis apapun yg aku ingin tulis.  
Aku rindu caramu menyemangatiku menulis. Aku menulis karna kamu. Dan aku berhenti karna kamu. 

Tapi aku rasa cukup untuk menjadikanmu objek inspirasiku menulis. Sebab sekarang dia sudah cukup mengindahkan hidupku tidak hanya tulisanku. Terima kasih untuk tawa setahun yang lalu.

Titip salam untuk kucing kesayanganmu.
Dari aku yang pernah mengagumi leluconmu.

Sabtu, 22 November 2014

SATNITE I

Udah malem minggu lagi aja. Gue lupa rasanya malem minggu. Padahal emang ga pernah malem mingguan. Keren.

Malem ini bahas yang ngeselin enak kali nih. Apa? Ngga bukan mantan. Mantan gue mah ga pernah ngeselin atuhlah. Baik-baik, sikapnya minta diajakin balikan bgt gitu. Hehe... he.. he.. tapi udah pada punya orang sih, yaudah ga jadi.

Oke Next!!!


“Siapa yang paling sering kamu ingat?”

“Siapa yang senyumnya paling kamu rindukan?”

“Siapa yang paling sering kamu temukan dalam tiap pejaman matamu?”

“Siapa yang paling kamu inginkan sosoknya berada disampingmu saat ini?”

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah siapa sebenar-benarnya orang yang paling lo cintai.


Yakini perasaan lo siapa yang benar-benar lo sayang dan cinta. Lo ga terlihat baik dengan mencari orang lain sebagai pelarian perasaan lo yang ga jelas itu.

Saat lo ditinggalin karena dia udah ada yang lebih baik dan lo memilih orang lain untuk lo mainin perasaannya, saat itu juga lo adalah sebrengsek-brengseknya manusia. Ga paham sama jenis manusia macam itu. Kalo bisa gue pengen buat alat pendeteksi kebohongan dan kebrengsekan orang lah ini. Oke udahin postingan ini, udah. 

Udah gitu aja. Postingan ini disponsori dari perasaan kesel sama orang yang ga pernah serius sama hubungan dan perasaan yang bener-bener tulus. Kan gitu. BHAY!!

*Diny masih sulit ngepost yang puitis macam selebtwit*

*Bisanya ngepost alay ga jelas macam tu je*

Kamis, 21 Agustus 2014

MOVE ON (sambung)~




Liburan smester telah usai Shilla akhirnya kembali kerutinitas awal, kembali ke alam yang di dalamnya hanya ada dia dan setumpukan buku-buku kuliah, sehelai kasur dan lemari tua yang terletak di pojok kamar kostnya.

“Siaaaallll, harus banget gitu gue balik kesini?!!” gerutuh Shilla.

Malam itu Shilla menghabiskan malamnya dengan menatap layar laptop dan sedikit sisah imajinasi yang tidak orang lain pahami. Shilla merasa jenuh dengan semua yang ada di sekitarnya malam itu. Handphone yang biasanya menarik baginya malam itu tidak berpindah posisi sejah usai Magrib tadi. Setelah ia merasakan kebosanan yang sama dengan laptopnya Shilla memutuskan untuk tidur berharap agar esok hari bisa bangun lebih pagi.

Pagi harinya Shilla masih merasa dirinya tidak seceria beberapa minggu yang lalu. Shilla kembali mengingat kejadian 1 minggu yang lalu.

Sepulang menonton bioskop bersama sahabat-sahabatnya tanpa disengaja Shilla bertemu dengan Dion, laki-laki yang telah mengisi hari-harinya 1tahun yang lalu. Shilla terpaku saat melihat Dion merangkul mesra seorang gadis cantik dengan mini dress dan sepatu wedges yang dipakainya. Seketika sahabat-sahabatnya menyadari tingkah Shilla yang tiba-tiba murung.

“Shill.... lo ngga kenapa-kenapa kan?” tanya Ajeng khwatir yang melihat Shilla terpaku.

“Emm... Apa? Gue? Engg...  Jeng.. Ah gue baik-baik aja kok!” jawab Shilla dengan senyum yang terpaksa agar  sahabat-sahabatnya tidak khawatir.

“Shill kesana yukkk!!! Gue mau es krim!!!” Sisi menarik Shilla mencoba untuk menghindari Shilla terus menatap Dion dan perempuan yang bersamanya.

Sahabat – sahabatnya tau Shilla bukanlah gadis yang semudah itu melupakan seseorang yang ia cintai. Dion memutuskan berpisah dengan Shilla karena alasan Dion bosan dengan sifat Shilla yang kekanakan dan terlihat sangat posesif. Malam itu mereka bertengkar akibat ulah Shilla yang selalu ingin dibenarkan. Shilla merasa sifat Dion terlalu cuek terhadapnya. Shilla masih belum bisa menerima keputusan Dion yang secara tiba-tiba.

Seminggu sepulangnya dari mall Shilla masih duduk terpaku di depan meja belajarnya. Shilla masih tidak menyangka laki-laki yang ia lihat beberapa hari lalu adalah Dion laki-laki yang sangat ia cintai hingga detik itu secepat itu melupakannya. Shilla buru-buru memilah buku mana lagi yang bisa membuatnya lega malam itu. Beberapa saat Shilla menatap halaman demi halaman pada novel itu namun tak satu kalimat pun yang ia baca. Dengan keadaan seperti itu Shilla merasa tidak nyaman berada sendirian di kamar kostnya dan Shilla memutuskan untuk pulang kerumahnya esok hari.

Keesokan harinya. Shilla terus mengurung diri di kamar hingga malam tiba dan mama mulai khawatir dengan keadaan Shilla yang tak bicara apa-apa.

“Kok kamu pulang sayang?” tanya mamanya.

“Ngga enak badan ma.”

“Kamu sakit? Yaudah istirahat gih, besok di temenin papa ke dokter ya sayang?”

“Ngga usah ma Shilla cuma kecapean aja kok”

“Yakin? Kamu kenapa sih? Cerita dong sama mama” tanya mama nya khawatir

“Maaa!!!! Dia jahat ma.” Shilla menangis dipelukan mamanya malam itu Shilla menceritakan semua yang ia lihat dan rasakan.

“Sayanggg, udah ya ngga usah difikirin lagi lah mending kamu belaja dulu nilai kamu tuh benerin!”

“Tapi ma”

“Shilla apa yang udah terjadi itu takdir Tuhan. Kamu diputusin dia pun itu catatan yang udah Tuhan tulis buat kamu. Kalo kamu masih sama dia sampe sekarang apa kamu masih akan bahagia? Kita ngga taukan. Dan kamu putus sama dia ini adalah proses kamu belajar sayang. Kamu harus belajar menghargai pasangan. Kamu juga harus belajar jaga emosi, kamu kan udah dewasa sekarang.”

“Iya ma Shilla ngerti.”

“Kamu kuliah yang bener dulu ya sayang, bikin mama sama papa bangga. Yaudah Sholat Isya’ dulu sana!”

“Iya mama, Shilla sayang mama.” Shilla berlalu setelah mencium pipi mamanya

Shilla merasa sangat tenang mendengar dan memeluk mama nya malam itu. Shilla semakin mengerti apa yang harusnya ia nomor satukan saat ini.

Setelah istirahat 1minggu di rumah Shilla merasa baikan dan kembali masuk kuliah.

Hari-hari Shilla dijalaninya dengan selalu berfikir bahwa dirinya harus baik-baik saja. Shilla mencoba mengubur semua cerita yang hanya akan melukai dan membuat ia termurung. Sahabat-sahabatnya pun selalu menjadi alasan Shilla tersenyum setiap harinya. Sejak saat itu Shilla selalu mementingkan apa yang seharusnya ia utamakan sejak dulu yaitu masa depan dan berbahagia bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Shilla terus berfikir bahwa kehilangan seseorang yang dicintai bukanlah akhir dari segalanya, sebab jodoh tidak akan pernah salah dan akan datang tepat pada waktunya.

--TAMAT--

Kamis, 24 Juli 2014



Selamat pagi..

Sepagi ini udah dapet inspirasi nulis gaesss. Mihihi...

Belajarlah mengerti apa yang lo rasain. Jangan pernah ngebohongin diri lo sendiri soal perasaan lo apa lagi ngebohongin orang yang bener-bener tulus sama lo. Karena dalam cinta ngga ada yang namanya kesempatan kedua. Hati yang udah lo buat sakit akan sulit kembali baik buat lo yang udah jadi penyebabnya.

Satu hal yang mau banget gue lakuin adalah mengulang waktu, dimana gue bisa ngebahagiain dan ngejadiin gue dan  dia, “kita”. Buat ngedapetin keseriusan dan kepercayaan dari orang yang lo sayang adalah sulit kalo lo udah pernah ngebuat dia sakit, dan yang bakal ngebuat dia lebih sakit adalah lo pergi dengan orang yang baru lo kenal setelah lo bilang sayang ke-dia.

Saat ini gue cuma mau berusaha memperbaiki semua salah yang udah gue buat. 

Jangan pernah takut berjuang sendirian selama lo ngerasa yang di perjuangkan adalah pantas ;))

Sabtu, 07 Juni 2014

MOVE ON~



     Weekend ini terasa melelahkan bagi Shilla. Jadwal kuliah lapangannya membuat liburan yang sudah ia rencanakan untuk nonton bareng teman-temannya batal sekejap setelah dosennya memutuskan bahwa minggu ini kuliah kerja lapangan akan dilaksanakan.

“ngeselin banget deh ma, masa iya mesti banget kuliah weekend gini..” gerutu shilla pada mamanya saat menelpon.

“udah deh shill jangan ngeluh terus, katanya mau kuliah ya ini namanya kuliah bukan main main terus.”

“iya dehhhh, shilla ngerti”

“belajar yang bener ya sayang. Yaudah tidur gih biar besok ngga kesiangan”

“iya mamaaa” jawab shilla

“Assalamuallaikum”

“Waalaikumsalam” Shilla menutup telpon mamanya.

     Malam itu Shilla tidak benar-benar tidur dengan baik. Keesokan harinya Shilla berangkat pagi-pagi sekali dari kostannya, karena lokasi dilaksanakan kegiatan tersebut cukup jauh dari tempat kostnya. Dengan malas Shilla berjalan kearah mahasiswa yang sedang menunggu bis yang kan mereka tumpangi datang, dan Shilla mencari sekumpulan teman-temannya yang kebetulan sedang bergosip yang selalu tak ingin Shilla tau.

“kenapa lu ?” Tanya Dira.

“lu ngga liat mata gue ngantuk banget gini?”

“yakelah Shill udah siang gini masih ngantuk aja lu. Begadang lagi?” Pertanyaan lainya berlanjut oleh Mia

“yaaa you know lahh”

“Dion lagi? Elu tuh ya mantan ngga jelas gitu masih aja di fikirin!!” omel Dira kepada Shilla

“udah ngga usah di bahas lagi. Lagian gue begadang bukan karna dia kok. Kebetulan ada novel yang belum gue selesain  ya gue lanjutinlah bacanya nanggung.” Jawab Shilla balas mengomel sambil berlalu menuju bus.

       Teman-temannya tau benar sifat Shilla yang kadang sering marah-marah ngga jelas karna masalah yang dia simpan sendiri dan berakhir dengan tumpukan novel yang sudah berulang kali dibacanya. Dion adalah mantan pacar Shilla. Dion dan Shilla sudah menjalin hubungan sejak SMA, namun hubungan mereka putus karena Dion memilih untuk pergi meninggalkan Shilla.
       

        Selama dalam perjalanan Shilla terus tidur tanpa memperdulika teman-temannya. Sebenarnya Shilla tidak benar-benar tidur, dia hanya sedikit menenangkan hatinya karna bila tidak begitu dia akan terus dijejali pertanyaan yang selalu membuatnya sakit.
                  
           Tidak terasa akhirnya mereka sampai di desa yang mereka tuju. Setelah pembagian kelompok dosen pembimbing kkl juga memberikan pembekalan bagi mahasiswanya. Beruntung Shilla satu kelompok dengan teman yang sudah dia kenal, sebab Shilla bukan orang yang suka basa basi hanya untuk berkenalan. Shilla termasuk orang yang pendiam dengan orang yang baru dikenalnya. Karna dalam kelompoknya juga termasuk seniornya Shilla lebih memilih banyak diam selama kegiatan berlangsung. Sampai akhirnya kegiatan pun selesai dan waktunya solat dan beristirahat makan siang.

“solat yuk.” Ajak Shilla dengan teman-temannya

“aku sih lagi ngga solat, hehe..”

“sama Shill aku juga ngga, hehe..”

“kebiasaan deh kalian, yaudah deh..” gerutuh Shilla sambil berlalu meninggalkan teman-temanya.

          Shilla pergi menuju masjid yang ada di desa tersebut. Di tempat wudhu yang terbatas dan posisi tempat wudhu perempuan dan laki-laki yang berdekatan membuat Shilla sedikit tidak nyaman. Tapi Shilla harus tetap berwudhu, solat dan memaklumi keadaan karena dalam situasi ini dia berada di desan dan harus memaklumi. Sebelum berwudhu Shilla sempat mengamati laki-laki yang sedang berwudhu dan dia ketahui ternyata adalah kakak tingkat yang satu kelas dengannya.

“Subhanallah..” ucap Shilla tanpa ia sadari didengar teman di sebelahnya.

“kenapa Shill?” Tanya Tari

“eumm.. ngga.. itu.. panas banget gini ya..” jawab Shilla terbata-bata.

“oh kirain kenapa. Iya nih panas banget. Wudhu yuk..”

Shilla dan Tari pun berwudhu, sedangkan kakak tingkatnya tersebut sudah berlalu ke dalam masjid.

       Usai solat semua berkumpul untuk makan siang. Sesekali Shilla mencari sosok yang membuatnya terpaku di tempat wudhu tadi. Waktu jam makan siang pun selesai dan semuanya bersiap-siap untuk pulang. Shilla dan teman-temannya pulang dengan bus yang tadi ia dan teman-temannya tumpangi. Sebelum pulang semua berkumpul di kampus terlebih dahulu. Dan bus pun dibagi sesuai tempat tujuan mahasiswa. Awalnya Shilla kebingungan mencari teman-temanya yang pulang satu tujuan dengannya. Dan akhirnya dia bertemu temannya Nisa di dalam sebuah bus. Setelah ia duduk Shilla kaget melihat sosok yang ia kagumi sewaktu wudhu di desa tadi. Senior itu duduk tidak jauh dari tempatnya. Sepanjang perjalanan pulang Shilla diam-diam memperhatikannya. Tapi Shilla kecewa setelah tau seniornya itu turun lebih dahulu darinya.
                
            Hingga sampailah Shilla dan Nisa, mereka memutuskan untuk membeli makanan ringan untuk cemilan sewaktu malam. Mereka pun masuk kedalam toserba di dekat kost mereka. Shilla kembali di kagetkan dengan sosok itu, hitam manis dan berpostur tubuh tidak terlalu tinggi dan kurus.

“aaaaak.... dia lagi..” shilla berteriak sedikit berbisik.

“kenapa lu?” Tanya Nisa kebingungan.

“itu tuh abang yang ituuu..” jawab Shilla berbisik

“oalah bang fatih?”

“elu kenal?” Tanya Shilla memaksa Nisa menjawab.

“ngga kenal banget juga sih.. tapi gue tau, dia kan senior yang satu kelas sama kita”

“oooh..”

“kenapa?” Tanya Nisa penasaran

“ngga kok..” jawab Shilla sambil berlalu.

         Shilla masuk ke dalam toserba dan pura-pura tidak melihat keberadaan seniornya. Namun dalam hatinya ia berharap dapat sapaan dari Fatih. Tapi Shilla gagal, Fatih seolah tidak menyadari keberadaan Shilla. Ia pun pergi menuju rak makanan yang akan dibelinya denga wajah masam.
                
          Sesampainya di kamar kost Shilla masih tetap membayangkan Fatih. setelah mandi dan solat magrib Shilla mencoba mengistirahatkan badannya yang terasa lelah. Tapi tidak beberapa lama layar handphonenya menyala dan tertera pemberitahuan bahwa ada BBM masuk. Tiba-tiba Shilla kaget kegirangan melihat ada pin yang menunjukkan pemiliknya adalah Fatih. Segera Shilla menginvite pin senior yang sudah membuat dia berpaling hari itu. Shilla beristirahat dan tidur dengan tenang malam itu, dalam keadaan hati yang bahagia.

Bersambung...

Senin, 26 Mei 2014

26/05/2014

Selamat malam

Malem ini tiba-tiba inget jaman SMA ih sumpah. Ngga pernah lupa momen per setiap menitnya saat seru-seruan bareng temen. Dan di setiap dapet kelas baru selalu ada moment konflik di sana. Satu konflik yang ngga akan pernah gue lupain, gue benci sumpah demi apa gue ngga akan pernah ngelupain orang-orang yang udah ngehina gue. Secuek apa gue sama masalah itu yang perlu mereka tau kalo sakit hati gue ngga pernah mungkin gue lupain. Mereka bilang gue ganjenlah, mereka bilang jilbab gue topenglah gue ngga pernah lupa itu. Sebenernya yang bikin gue sakit hati banget tuh orang yang suka bawa-bawa jilbab dalam setiap masalah. Apa cewek berjilbab ngga bisa berbuat dosa? Haha aneh deh. Kita juga manusia yang ngga mungkin ngga punya salah broo.

Yang perlu kalian tau yaa, berjilbab adalah kewajiban setiap perempuan muslim dan itu yang selalu orang tua gue ingetin kegue. Gue ngga bisa jelasin sedetail mungkin karna gue ngga terlalu paham soal itu. Tapi satu hal gue di sini cuma ngejalanin kewajiban gue sebagai perempuan Muslim dan masih belajar dalam memperbaikin diri, gitu aja sih. Mungkin mereka fikir gue udah ngelupain yang kemarin, tapi mereka ngga tau kalo sakit hatinya gue ngga segampang itu gue lupain.

Udah deh ya tambahin dosa aja kalo gini. Gue tuh cuma ngga mau lo pada masih bertingkah bodoh kek “mereka”, menganggap kalo perempuan HARUS bersikap baik sama semua orang, yakali bersikap baik sama orang-orang yang dengan ngga pake hatinya nyakitin perasaan orang lain. Gede kepala lah mereka.

Tapi wolesss, gue ngga bakal ngelabrak orang-orang JAHAT itu karna orang tua gue ngga pernah ngajarin gue main otot. Karna akan selalu ada balas dari setiap perbuatan. Allah ngga tidur kok dan gue udah ngerasa mereka udah dapet balasan dari setiap kesombongan mereka. Dannnn semoga mereka cepet dapet hidayah gitu aja sih ya. Yaudah, bye.

Wassalamuallaikum..