Aku tau ini, masa dibahagiakan olehmu sudah kadaluarsa. Yang
ada rasa perih untuk semua kenangan yang aku fikir sudah tidak cukup
membahagiakan lagi bagiku. Percayalah, aku tidak pernah menyesali keputusanmu,
yang aku selalu sesali mengapa Tuhan hadirkan kamu untuk hanya sekedar menanam
luka. Aku tau kamu tidak pernah benar-benar punya rasa.
Tapi aku percaya Tuhan selalu memberi pelajarn hidup
untukku. Laki-laki yang aku anggap baik tidak selalu baik dimatanya. Dulu,
sebelum mengenalmu aku telah bertemu seseorang yang kurang lebih ku gilai. Gila?
Iya. Selama berbulan-bulan aku bertahan tanpa kepastian dan kejelasan. Aku terlalu
mengharap-harap dia. Aku tau itu bodoh
tapi aku yakin dia tulus. Entahlah, tulus untuk adik atu lebih. Aku mulai
belajar untuk terbiasa tidak mengganggunya, dan aku bisa. Hingga aku bertemu
kamu. Kamu beda, kamu punya kejelasan. Aku dibutakan olehmu. Kamu selalu punya
cara untuk membuatku tersenyum bahkan tertawa yang terkadang membuatku terlihat
aneh. Tapi setelah aku mengerti kamu tak benar-benar punya semua yang aku
harapkan. Kamu tidak bersungguh-sunggu atas rasamu dan kita. Saat aku bilang
terserah sungguh aku tidak mengharapkan jawaban yang kamu katakan malam itu. Tapi
aku tau itu yang kamu harapkan sejak awal.
Kadang aku berfikir sebodoh itukah aku? Tidak bisa
benar-benar mengartikan cinta dan tulus. Tapi sudahlah aku mengerti jalan Tuhan
ini. Aku berbahagia atas bahagianya kalian. Mama benar aku tidak pernah bisa
benar-benar memilih laki-laki yang baik. Maaf kalian bukan tidak baik tapi
kalian bukan untukku.
Terlalu dramatis apa mungkin terlalu sering menonton
drama romantis. Ahsyudahlahhhh~
Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar