Kamis, 21 Agustus 2014

MOVE ON (sambung)~




Liburan smester telah usai Shilla akhirnya kembali kerutinitas awal, kembali ke alam yang di dalamnya hanya ada dia dan setumpukan buku-buku kuliah, sehelai kasur dan lemari tua yang terletak di pojok kamar kostnya.

“Siaaaallll, harus banget gitu gue balik kesini?!!” gerutuh Shilla.

Malam itu Shilla menghabiskan malamnya dengan menatap layar laptop dan sedikit sisah imajinasi yang tidak orang lain pahami. Shilla merasa jenuh dengan semua yang ada di sekitarnya malam itu. Handphone yang biasanya menarik baginya malam itu tidak berpindah posisi sejah usai Magrib tadi. Setelah ia merasakan kebosanan yang sama dengan laptopnya Shilla memutuskan untuk tidur berharap agar esok hari bisa bangun lebih pagi.

Pagi harinya Shilla masih merasa dirinya tidak seceria beberapa minggu yang lalu. Shilla kembali mengingat kejadian 1 minggu yang lalu.

Sepulang menonton bioskop bersama sahabat-sahabatnya tanpa disengaja Shilla bertemu dengan Dion, laki-laki yang telah mengisi hari-harinya 1tahun yang lalu. Shilla terpaku saat melihat Dion merangkul mesra seorang gadis cantik dengan mini dress dan sepatu wedges yang dipakainya. Seketika sahabat-sahabatnya menyadari tingkah Shilla yang tiba-tiba murung.

“Shill.... lo ngga kenapa-kenapa kan?” tanya Ajeng khwatir yang melihat Shilla terpaku.

“Emm... Apa? Gue? Engg...  Jeng.. Ah gue baik-baik aja kok!” jawab Shilla dengan senyum yang terpaksa agar  sahabat-sahabatnya tidak khawatir.

“Shill kesana yukkk!!! Gue mau es krim!!!” Sisi menarik Shilla mencoba untuk menghindari Shilla terus menatap Dion dan perempuan yang bersamanya.

Sahabat – sahabatnya tau Shilla bukanlah gadis yang semudah itu melupakan seseorang yang ia cintai. Dion memutuskan berpisah dengan Shilla karena alasan Dion bosan dengan sifat Shilla yang kekanakan dan terlihat sangat posesif. Malam itu mereka bertengkar akibat ulah Shilla yang selalu ingin dibenarkan. Shilla merasa sifat Dion terlalu cuek terhadapnya. Shilla masih belum bisa menerima keputusan Dion yang secara tiba-tiba.

Seminggu sepulangnya dari mall Shilla masih duduk terpaku di depan meja belajarnya. Shilla masih tidak menyangka laki-laki yang ia lihat beberapa hari lalu adalah Dion laki-laki yang sangat ia cintai hingga detik itu secepat itu melupakannya. Shilla buru-buru memilah buku mana lagi yang bisa membuatnya lega malam itu. Beberapa saat Shilla menatap halaman demi halaman pada novel itu namun tak satu kalimat pun yang ia baca. Dengan keadaan seperti itu Shilla merasa tidak nyaman berada sendirian di kamar kostnya dan Shilla memutuskan untuk pulang kerumahnya esok hari.

Keesokan harinya. Shilla terus mengurung diri di kamar hingga malam tiba dan mama mulai khawatir dengan keadaan Shilla yang tak bicara apa-apa.

“Kok kamu pulang sayang?” tanya mamanya.

“Ngga enak badan ma.”

“Kamu sakit? Yaudah istirahat gih, besok di temenin papa ke dokter ya sayang?”

“Ngga usah ma Shilla cuma kecapean aja kok”

“Yakin? Kamu kenapa sih? Cerita dong sama mama” tanya mama nya khawatir

“Maaa!!!! Dia jahat ma.” Shilla menangis dipelukan mamanya malam itu Shilla menceritakan semua yang ia lihat dan rasakan.

“Sayanggg, udah ya ngga usah difikirin lagi lah mending kamu belaja dulu nilai kamu tuh benerin!”

“Tapi ma”

“Shilla apa yang udah terjadi itu takdir Tuhan. Kamu diputusin dia pun itu catatan yang udah Tuhan tulis buat kamu. Kalo kamu masih sama dia sampe sekarang apa kamu masih akan bahagia? Kita ngga taukan. Dan kamu putus sama dia ini adalah proses kamu belajar sayang. Kamu harus belajar menghargai pasangan. Kamu juga harus belajar jaga emosi, kamu kan udah dewasa sekarang.”

“Iya ma Shilla ngerti.”

“Kamu kuliah yang bener dulu ya sayang, bikin mama sama papa bangga. Yaudah Sholat Isya’ dulu sana!”

“Iya mama, Shilla sayang mama.” Shilla berlalu setelah mencium pipi mamanya

Shilla merasa sangat tenang mendengar dan memeluk mama nya malam itu. Shilla semakin mengerti apa yang harusnya ia nomor satukan saat ini.

Setelah istirahat 1minggu di rumah Shilla merasa baikan dan kembali masuk kuliah.

Hari-hari Shilla dijalaninya dengan selalu berfikir bahwa dirinya harus baik-baik saja. Shilla mencoba mengubur semua cerita yang hanya akan melukai dan membuat ia termurung. Sahabat-sahabatnya pun selalu menjadi alasan Shilla tersenyum setiap harinya. Sejak saat itu Shilla selalu mementingkan apa yang seharusnya ia utamakan sejak dulu yaitu masa depan dan berbahagia bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Shilla terus berfikir bahwa kehilangan seseorang yang dicintai bukanlah akhir dari segalanya, sebab jodoh tidak akan pernah salah dan akan datang tepat pada waktunya.

--TAMAT--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar