Liburan smester telah usai Shilla
akhirnya kembali kerutinitas awal, kembali ke alam yang di dalamnya hanya ada
dia dan setumpukan buku-buku kuliah, sehelai kasur dan lemari tua yang terletak
di pojok kamar kostnya.
“Siaaaallll, harus banget gitu gue
balik kesini?!!” gerutuh Shilla.
Malam itu Shilla menghabiskan
malamnya dengan menatap layar laptop dan sedikit sisah imajinasi yang tidak
orang lain pahami. Shilla merasa jenuh dengan semua yang ada di sekitarnya
malam itu. Handphone yang biasanya menarik baginya malam itu tidak berpindah
posisi sejah usai Magrib tadi. Setelah ia merasakan kebosanan yang sama dengan
laptopnya Shilla memutuskan untuk tidur berharap agar esok hari bisa bangun
lebih pagi.
Pagi harinya Shilla masih merasa
dirinya tidak seceria beberapa minggu yang lalu. Shilla kembali mengingat
kejadian 1 minggu yang lalu.
Sepulang menonton bioskop bersama
sahabat-sahabatnya tanpa disengaja Shilla bertemu dengan Dion, laki-laki yang telah
mengisi hari-harinya 1tahun yang lalu. Shilla terpaku saat melihat Dion
merangkul mesra seorang gadis cantik dengan mini dress dan sepatu wedges yang
dipakainya. Seketika sahabat-sahabatnya menyadari tingkah Shilla yang tiba-tiba
murung.
“Shill.... lo ngga kenapa-kenapa
kan?” tanya Ajeng khwatir yang melihat Shilla terpaku.
“Emm... Apa? Gue? Engg... Jeng.. Ah gue baik-baik aja kok!” jawab Shilla
dengan senyum yang terpaksa agar
sahabat-sahabatnya tidak khawatir.
“Shill kesana yukkk!!! Gue mau es
krim!!!” Sisi menarik Shilla mencoba untuk menghindari Shilla terus menatap
Dion dan perempuan yang bersamanya.
Sahabat – sahabatnya tau Shilla
bukanlah gadis yang semudah itu melupakan seseorang yang ia cintai. Dion
memutuskan berpisah dengan Shilla karena alasan Dion bosan dengan sifat Shilla
yang kekanakan dan terlihat sangat posesif. Malam itu mereka bertengkar akibat
ulah Shilla yang selalu ingin dibenarkan. Shilla merasa sifat Dion terlalu cuek
terhadapnya. Shilla masih belum bisa menerima keputusan Dion yang secara
tiba-tiba.
Seminggu sepulangnya dari mall
Shilla masih duduk terpaku di depan meja belajarnya. Shilla masih tidak menyangka
laki-laki yang ia lihat beberapa hari lalu adalah Dion laki-laki yang sangat ia
cintai hingga detik itu secepat itu melupakannya. Shilla buru-buru memilah buku
mana lagi yang bisa membuatnya lega malam itu. Beberapa saat Shilla menatap
halaman demi halaman pada novel itu namun tak satu kalimat pun yang ia baca.
Dengan keadaan seperti itu Shilla merasa tidak nyaman berada sendirian di kamar
kostnya dan Shilla memutuskan untuk pulang kerumahnya esok hari.
Keesokan harinya. Shilla terus
mengurung diri di kamar hingga malam tiba dan mama mulai khawatir dengan
keadaan Shilla yang tak bicara apa-apa.
“Kok kamu pulang sayang?” tanya
mamanya.
“Ngga enak badan ma.”
“Kamu sakit? Yaudah istirahat gih,
besok di temenin papa ke dokter ya sayang?”
“Ngga usah ma Shilla cuma
kecapean aja kok”
“Yakin? Kamu kenapa sih? Cerita
dong sama mama” tanya mama nya khawatir
“Maaa!!!! Dia jahat ma.” Shilla
menangis dipelukan mamanya malam itu Shilla menceritakan semua yang ia lihat
dan rasakan.
“Sayanggg, udah ya ngga usah
difikirin lagi lah mending kamu belaja dulu nilai kamu tuh benerin!”
“Tapi ma”
“Shilla apa yang udah terjadi itu
takdir Tuhan. Kamu diputusin dia pun itu catatan yang udah Tuhan tulis buat
kamu. Kalo kamu masih sama dia sampe sekarang apa kamu masih akan bahagia? Kita
ngga taukan. Dan kamu putus sama dia ini adalah proses kamu belajar sayang.
Kamu harus belajar menghargai pasangan. Kamu juga harus belajar jaga emosi,
kamu kan udah dewasa sekarang.”
“Iya ma Shilla ngerti.”
“Kamu kuliah yang bener dulu ya
sayang, bikin mama sama papa bangga. Yaudah Sholat Isya’ dulu sana!”
“Iya mama, Shilla sayang mama.”
Shilla berlalu setelah mencium pipi mamanya
Shilla merasa sangat tenang
mendengar dan memeluk mama nya malam itu. Shilla semakin mengerti apa yang
harusnya ia nomor satukan saat ini.
Setelah istirahat 1minggu di
rumah Shilla merasa baikan dan kembali masuk kuliah.
Hari-hari Shilla dijalaninya
dengan selalu berfikir bahwa dirinya harus baik-baik saja. Shilla mencoba
mengubur semua cerita yang hanya akan melukai dan membuat ia termurung.
Sahabat-sahabatnya pun selalu menjadi alasan Shilla tersenyum setiap harinya.
Sejak saat itu Shilla selalu mementingkan apa yang seharusnya ia utamakan sejak
dulu yaitu masa depan dan berbahagia bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Shilla terus berfikir bahwa kehilangan seseorang yang dicintai bukanlah akhir
dari segalanya, sebab jodoh tidak akan pernah salah dan akan datang tepat pada
waktunya.
--TAMAT--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar